Fajar Hidayat
The Prophet (SAW) said, "The whole earth has been shown to me, until I saw the east of the east and the west of the west, and the authority of my ummah ruled all that saw"| muslim | imam ahmed |
Catching Elephant is a theme by Andy Taylor
“Sama seperti banjir, ekses negatif dari perbuatan maksiat, tidak akan pernah pilih-pilih siapa korbannya, baik anda berbuat maksiat atau tidak” (dari Link)
Benar, begitu juga dalam pemerintahan. okelah kita memiliki salah satu sosok pemimpin yang jujur dan adil. tapi tahukah anda, sekalipun pemimpin itu adil tetapi dilingkungan yang ia pimpin penuh dengan koruptor. si pemimpin tadi dapat terkena dampak korupsi. Bisa saja pemimpin tersebut menerima ‘amplop’ berisi fulus tanpa nama pemberi, hanya bertuliskan “kepada bapak xxx”.. tiba2 ada di tasnya entah siapa yang memasukkan. Mau diapakan amplop itu? di jariyahkan, di buang, ditinggal? sudah pasti dia akan kena dampaknya jika kasus korupsi terkuak(menyumbangkan berarti sama saja dia menerima suap). di selipin di bawah kasur? sama saja dia menyembunyikan barang bukti di rumahnya sendiri. Akhirnya? dia terlibat korupsi, padahal tidak ada niatan sebelumnya untuk korupsi. Tetapi karena lingkungan yang korup, dia menjadi terlibat kasus korupsi. mungkin ini yang dimaksud korupsi berjamaah dan calon2 dalam pemilu berebut kursi basah di pemerintahan.
logikanya tidak seperti itu kalau dalam islam.
akad jual beli dalam islam tidak ada keterikatan dengan penjual dan pembeli setelah berlangsungnya jual-beli..
ibarat seperti ini:
ada pedagang menjual pisau pemotong daging, kemudian si pembeli menggunakan pisau tersebut untuk membunuh 1000 orang lantas apakah si penjual mendapatkan dosanya?
tidak..
dalam islam tidak boleh ada akad di dalam akad.. sama halnya seperti ketika “saya jual kambing ini kepada Anda, tetapi kambing ini tidak boleh anda sembelih, tidak boleh anda jual” » contoh seperti itu juga tidak boleh.. ketika barang sudah kita jual maka itu sudah menjadi milik pembeli. antara pembeli dan penjual tidak ada keterikatan. sama halnya dengan kasus ini, yaitu hamburger McDonal misalnya kita membeli dengan uang kita dan McDonal terserah mau diapakan uang yang ia dapat dari kita. Antara McDonald dengan pembeli sudah tidak ada keterikatan.
Bukannya saya mendukung atas sokongan dana untuk penjajahan di palestina. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah pemikiran yang benar. Dengan penyampaian yang seperti gambar di atas setidaknya akan menimbulkan pembaca salah persepsi, yang pertama adalah mengenai akad jual beli dalam islam. Dan akan mengira bahwa dia ikut menanggung dosanya. padahal tidak.
Jika sudah jelas bahwa McDonald menyokong dana atas penjajahan di palestina, ya kita tidak usah membeli produknya.. alasannya bukan karena “1 sen yang kita bayar setara dengan 1 peluru untuk penduduk palestina” tetapi bilang saja terus terang kalau kita menentang tindakan McDonald yang menyokong penjajah membantai kaum muslim.
Say no to McDonald!
"Teman seiman di depan di acuhkan, teman atau bahkan musuh bersilang iman di jadikan alasan"
Nilam : Baiklah sahabatku.. Mari kita selesaikan ini..
Hagia : Nilam.. menurutmu bagaimana keadaan negeri ini?
Nilam : menurutku.. negeri ini sedang kacau. Anggap saja kita hidup dinegeri yang telah didogma untuk tetap berada dalam keterbelakangan.. jangan berharap apapun dari negeri ini.. negeri ini sudah dibilang mati suri. Hiatus. Ataupun terkena libur cuti hingga waktu yang tidak ditentukan.
Hagia : begitu yaa Nilam.. berarti jika pemikiran saya bertanya seperti ini bagaimana?
bagaimana sih keadaan ekonomi negeri ini? Jika ditinjau dari pendapatmu?
Nilam : umm.. menurut saya. Keadaan ekonomi negeri in kacau. Carut marut. Pokoknya serba bermasalah deh.
Hagia : Oke begitu menurutmu.. memangnya siapa sih yang menciptakan ekonomi?
Nilam : wah. Jika itu yang kamu tanyakan. Saya tak tahu – menahu tentang itu..
Hagia : Baiklah saya permudah. Ekonomi itu adalah kegiatan manusia. Salah satu aspek yang wajib ada dalam kehidupan manusia. Lantas Jika manusia dihidupkan.
Maka jelaslah pasti ada yang membuat manusia untuk hidup. Kemudian diciptakan pula setiap kegiatannya. Dan tidak mungkin pula manusia hidup dengan sendiri lantas setelah hidup mereka tidak diatur dalam pola kegiatan. Maka saya perjelas. Manusia dihidupkan oleh Sang Pencipta. Dan Sang Pencipta pun menciptakan semua pola-pola kegiatan yang akan dijalani oleh setiap manusia yang hidup di Dunia. Jadi ekonomi itu diciptakan oleh sang pencipta.
Nilam : Benar juga ya? Lantas kenapa Hagia?
Hagia : oke kembali ke pertanyaan ya.. Jika sekarang Ekonomi in carut marut. Kacau bahkan tak teratur. Maka siapa yang harus disalahkan? Penciptanya atau para pelaku ekonominya? Jika memang penciptanya yang salah?
Oke. Mari kita sama-sama berpindah keyakinan. Dan buat peraturan ekonomi sendiri. Lantas jangan lagi beragama, bagaimana? Ataukah para pelaku ekonominya?
Nilam : menurutku.. Pelaku ekonominya. Tapi kaan…. (terdiam)
Hagia : Oke pelaku ekonominya. Jadi kita sepakat bukan jika keadaan ekonomi di negeri ini hancur karena para pelaku ekonominya tidak menggunakan hukum-hukum yang diciptakan dari sang pencipta.
Nilam : iyaa sih.. tapi saya masih bingun dengan keadaan ekonomi negeri ini. Apakah ini carut marut atau tidak kan saya tidak tahu secara pasti.
Toh dari pendapatan per kapita negeri ini juga bukan termasuk yang terendah. Dan jangan hanya dilihat dari Aspek ekonomi saja dong. Hagia.. kan masih ada Politik. Sosial dan Budayanya..
Hagia : oke kita bahas yang lain saja. Dari sudut pandang Politik pun begitu. Menurutmu jika Negara kita menerapkan system dimana kebenaran hanya ditentukan banyaknya kepala tapi bukan pada apa yang ada dalam kjepala tersebut bagaimana?
Bukankah sama saja bertanya kepada anak kecil yang mau menjawab apapun sekehendak dari pemberii permen. Bagaimana menurutmu?
Nilam : oke hagia. Aku menyerah berdebat dengan mu? Lantas bagaimana menurutmu jika negeri ini masih koma. Hiatus bahkan sekarat atau bisa dibilang hampir mati?
Hagia : ya tidak ada cara lain selain menerapkan hukum-hukum dari sang pencipta.
Nilam : Ah itu hanya ayalmu saja Hagia. Kan Negara kita Negara yang heterogen. Serta kepercayaannya pun bermacam-macam. Lantas…(terpotong)
Hagia : kamu ini Nilam. Kenapa masih memikirkan orang-orang yang berbeda dengan kepercayaanmu bahkan menentang kepercayaanmu.
Sedangkan orang yang kepercayaannya sama denganmu dan sedang berbicara didepanmu malah tak kau dukung. Kamu ini bagaimana sih?
Nilam : Maaf. Hagia. Betul juga katamu. Oke. Saya dukung sepenuhnya terhadap pemikiranmu.
Sekalipun dalam pemilu terdapat kecurangan, seperti suap, penggelembungan suara, pembelian suara, toh tetap saja itu di anggap “pesta demokrasi”, dan yang menang pemilu tetap di lantik. Sistemnya pun juga masih di sebut demokrasi. Di akhir masa soeharto terjadi kericuhan dan menimbulkan tragedi berdarah seperti trisakti. Toh tetap saja sistemnya disebut dengan demokrasi.
Begitu juga dengan khilafah, memang jaman dahulu seorang khalifah ‘meminta’ ummat untuk membaiat anaknya menjadi khalifah selanjutnya. Memang jaman dahulu terjadi kekacauan seperti kasus berdarah jaman mu’awiyah, pembunuhan khalifah oleh pihak-pihak tertentu. Dan juga pada masa dahulu terjadi penyimpangan terhadap syariah islam dalam kapasitas tertentu, tetapi tetap saja kita menyebutnya sebagai sistem KHILAFAH ISLAMIYAH bukan kerajaan, bukan bani, bukan monarchi, bukan diktator. Karena KHILAFAH adalah sistem pemerintahan yang unik, tidak ada yang menyerupainya di dunia ini. Dan sistem KHILAFAH ini pernah berdiri selama hampir 1400 tahun hijriyah.
Sosialisme tidak genap 100 tahun sudah runtuh.
Kapitalisme pun juga termasuk masih muda, tetapi sudah menampakkan kerusakan yang disebabkannya di muka bumi ini.
Tidak ada pilihan lain kecuali kepada sistem islam dalam naungan Khilafah.

Hanya sedikit orang, yang mampu ikhlas menerima tudingan malpraktik, meskipun tidak ada yang pernah tahu seberapa berat dia bekerja tanpa tidur, sebelum akhirnya dia melakukan kesalahan yang mungkin sebenarnya manusiawi untuk seorang manusia biasa yang bisa lelah, tapi tidak boleh dilakukan seorang tenaga kesehatan yang haruslah seperti malaikat yang tanpa cela.
Hanya sedikit manusia, yang mampu menahan lelahnya dan dibangunkan tengah malam, karena setiap orang sakit, meskipun itu hanya gatal-gatal, adalah pasien darurat yang harus ditangani saat itu juga.
Hanya sedikit manusia, yang mampu bersabar saat menerima pasien, yang mungkin sudah membayar berpuluh - puluh atau bahkan ratusan juta ke pabrik rokok untuk membeli penyakit, tapi tidak mau mengeluarkan sepeser pun untuk membayar pengobatan, malah menuduh tenaga kesehatan itu adalah makhluk penghisap darah yang mencari keuntungan dari penderitaan orang lain, tanpa sadar pihak mana yang sebenarnya mengambil keuntungan dan membuat dia sakit seperti itu.
Hanya sedikit orang, yang mampu bekerja di klinik swasta, dengan honor ribuan bahkan ratusan rupiah per pasiennya, tapi dapat dituntut ratusan juta apabila terjadi alergi obat (yang kalau dilihat komponen katanya adalah “alergi” yang berasal dari kekebalan tubuh pasien dan “obat” yang diproduksi oleh pabrik obat, tenaga kesehatan sendiri bisa dibilang hampir tidak punya peran dalam alergi obat tersebut).
Hanya sedikit orang, yang bisa menerima keadilan media, dalam memberitakan kasus dugaan malpraktek secara besar - besaran, sementara saat teman sejawatnya meninggal tenggelam saat bertugas ke pedalaman, hanya ditulis di kolom kecil yang pasti tidak menarik perhatian.
Mari kita sukseskan gerakan “Hargai Petugas Medis”
Hari Bakti Dokter Indonesia
20 Mei 1908 - 20 Mei 2012
Source: Fahmi Amhar
(Source: littlekitsune)
Democracy is Shirk HD
Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya
Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek
padahal rambut sasak mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman
padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.
Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah
padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku ”ketuaan”
padahal umur kepala dua mereka tidak menjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.
Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik,
padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat,
padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel
Mereka bilang aku nggak gaul,
padahal untuk mengenal konspirasi saja mereka geleng-geleng.
Mereka bilang:
aku sok suci
aku tidak menikmati hidup
aku nggak ngalir
aku fanatik
dan sok bau surga.
Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri.
Karena najis tidak pernah mendapatkan tempat dimanapun berada, meskipun letaknya di atas tahta emas.
Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak.
Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.
Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah menyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur)
Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga
not only palestine who need to be free
but also our muslim brother in the world need to be free.. in Indonesia, syria, they need to be free. let’s reestablish caliphate
cuma berjabat tangan ama bapaknya(akad nikah) slma 5 menit,aja ga brani.. Tapi gandengan seharian(pacaran) ama anaknya brani. Itu cowo cemen!
Pesan singkat bagi Muslim Indonesia tentang Khilafah dan Penerapan Syariah
dari Felix Y. Siauw
Could our culture of choice be preventing social change?
“the ideology of choice (like democracy, and also capitalism) is actually not so optimistic and it prevents social change”
“choice always involves a loss”
Just islam is the true ideology
Re-establish khilafah